
Ketika seorang murid datang pagi-pagi membawa es teh manis, kita mungkin segera mengingatkannya agar masuk kelas. Namun, sesekali kita bisa memulai percakapan lain: sudahkah ia sarapan? Seberapa sering ia membeli minuman manis? Dari percakapan sederhana, kita mulai mengenal kebiasaan yang ikut memengaruhi kesehatannya.
Perhatian semacam ini punya alasan. GSHS Indonesia 2023 mencatat 41 persen murid usia 13-17 tahun mengonsumsi minuman berpemanis setidaknya sekali sehari dalam sepekan sebelum survei. Asupan gula berlebih dapat meningkatkan risiko kegemukan. Karena itu, mengingatkan murid perlu berjalan bersama usaha menyediakan air putih dan pilihan menu kantin yang lebih sehat.
Sesudah percakapan pagi itu, murid menjalani hari yang panjang. Bagi yang bersekolah pukul 07.00 hingga 15.30, masih mungkin ada ekstrakurikuler dan tugas setelahnya. Kegiatan sekolah seperti isi sepiring makanan. Menambah porsinya terus-menerus belum menjamin kebutuhan gizinya terpenuhi. Kita perlu memilih kegiatan yang bermanfaat dan memberi cukup waktu beristirahat. OECD pun menekankan bahwa kualitas waktu belajar sama pentingnya dengan lamanya.
Di tengah kepadatan itu, kita jangan lekas puas karena murid manut, mengikuti semua arahan guru. Ada hal yang lebih jauh untuk diperhatikan: apakah kegiatan itu membantu mereka berkembang? Apakah mereka berani bertanya dan menyampaikan kesulitan? Hubungan yang baik memberi tempat bagi suara murid. Di situlah kepercayaan tumbuh, ketika guru mau mendengar dan murid merasa aman untuk bicara.
Rasa aman ini penting. GSHS 2023 mendapati 66,9 persen murid usia 13-17 tahun tidur kurang dari delapan jam sehari. Sementara itu, I-NAMHS 2022 menemukan sekitar satu dari tiga remaja usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Temuan ini patut membuat kita lebih sabar memahami murid yang tampak lesu atau mudah kewalahan.
Kesulitan mereka juga bisa terasa di tubuh. Stres dapat memperberat gangguan pencernaan tertentu, termasuk mual dan nyeri ulu hati. Keluhan berulang yang biasa disebut “maag” atau “asam lambung” perlu pemeriksaan. Karena itu, program pemeriksaan kesehatan bagi pendidik, tenaga kependidikan, dan murid di sekolah kita layak diapresiasi. Langkah ini membuka kesempatan mengenali masalah lebih awal, lalu menindaklanjutinya sesuai kebutuhan.
Perhatian tersebut perlu menyentuh kehidupan rohani pula. Guru dapat mendampingi murid beribadah sesuai keyakinan, membiasakan kejujuran, dan belajar bertanggung jawab. Dalam bahasa Jawa, kita mengenal nguwongke: menghargai seseorang sebagai manusia yang punya perasaan dan pilihan. Murid boleh belajar menjadi tangguh sambil tetap memperoleh bantuan ketika kesulitan, itulah esensi resiliensi.
Menghargai pilihan itu juga berlaku selepas SMA. Kuliah bisa menjadi pilihan yang tepat, tetapi tidak selalu menjadi pilihan terbaik bagi setiap murid. Ada yang ingin bekerja, mengikuti pelatihan, atau membantu orangtua. Guru dan keluarga dapat membantu mereka menimbang kemampuan, biaya, serta langkah berikutnya tanpa merendahkan pilihan tersebut.
Besok pagi, ketika murid kembali datang ke sekolah, semoga ia merasa dihargai dan berani bercerita. Kita boleh berharap tinggi kepada anak-anak. Mari memastikan mereka tetap sehat, punya pegangan, dan memiliki suara dalam menentukan masa depannya.
Referensi
WHO. (2023). Global School-based Student Health Survey Indonesia 2023 Fact Sheet.
WHO. (2023). Reducing free sugars intake in children to reduce the risk of noncommunicable diseases.
OECD. Learning time and disciplinary climate. Memuat temuan PISA 2022.
Universitas Gadjah Mada. (2022). Hasil Survei I-NAMHS: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Memiliki Masalah Kesehatan Mental.
GiKids. (2021). Functional Dyspepsia. Panduan gangguan pencernaan pada anak dan remaja.
Penulis: Dr. Widodo, S.Pd., M.Pd. (Penulis Buku DEEP LEARNING atau DEEP STRESS)
Penjelasan beberapa istilah: