Jumat, 23 Oktober 2026 menjadi hari istimewa dimana SMA Negeri 13 Semarang mengadakan acara Launching Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata. Tobat ekologis mengajak kita untuk menyadari bahwa berbagai permasalahan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia. Oleh karena itu, perubahan perlu dimulai dari diri sendiri, dari kebiasaan sederhana, dan dari lingkungan terdekat kita, yaitu sekolah.
Adapun rangkaian kegiatan diawali dengan pengibaran bendera Merah Putih dan doa bersama dilanjutkan sambutan kepala SMAN 13 Semarang. Ibu Isnaeni Tapa Astuti dalam sambutannya menyampaikan Komitmen Bersama. Pertama, membuang sampah pada tempatnya, Kedua akan membawa tumbler untuk mengurangi sampah plastik dan yang Ketiga adalah Konsisten. Sekaligus memulai kegiatan Tobat Ekologis dan Adiwiyata di Smagalas.
Simbolisasi kepedulian terhadap bumi melalui penyiraman tanaman, Ibu Kepala Sekolah didampingi Bapak Tri Yulistiyanto, S.Pd. selaku perwakilan Komite Sekolah dan Ibu Riezma Deasyastuti, SR. selaku perwakilan Paguyuban Orang tua murid dan Gerakan 1000 tumbler. Penyiraman tanaman menjadi simbol komitmen kita untuk merawat dan menjaga kehidupan. Sementara itu, Gerakan 1000 Tumbler merupakan ajakan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membiasakan diri membawa botol minum yang dapat digunakan berulang kali.
Pembacaan ikrar komitmen ekologis, sebagai bentuk komitmen warga sekolah untuk menjaga lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Perwakilan murid melakukan pertunjukan teatrikal yang mengangkat tema krisis ekologis, dampak perilaku manusia terhadap alam, serta pentingnya pertobatan ekologis melalui tindakan nyata. Melalui seni pertunjukan, kita diajak untuk melihat bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan alam, melainkan juga menjadi pengingat bagi manusia untuk mengubah perilakunya.
Selanjutnya adalah sosialisasi freecycle, yaitu kegiatan memberikan atau menukar barang yang masih layak pakai agar dapat dimanfaatkan kembali oleh orang lain dan tidak berakhir menjadi sampah. Barang yang tidak lagi kita gunakan belum tentu tidak berguna. Bisa jadi, barang tersebut justru dibutuhkan oleh orang lain. Melalui freecycle, kita belajar untuk lebih bijak dalam menggunakan barang, mengurangi kebiasaan membuang barang yang masih layak, serta membangun kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Kepedulian terhadap lingkungan juga dapat disampaikan melalui musik dan lagu. Melalui jingle, pesan-pesan positif tentang menjaga lingkungan diharapkan dapat lebih mudah diingat dan menjadi semangat bersama. Untuk itu Smagalas juga melakukan Launching Jingle Sekolah Adiwiyata.
Kegiatan edukatif, yaitu demonstrasi pemecah botol plastik dan composting atau pengolahan sampah organik menjadi kompos yang disampaikan Bapak Widodo. Sosialisasi biopori oleh Ibu Maria Sundus, Biopori merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah sekaligus mendukung pengelolaan sampah organik. Penerapannya menjadi salah satu bentuk kepedulian kita terhadap keseimbangan lingkungan.
Fashion Show 3R dan Karya Anak, yang mengangkat prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle. Melalui kreativitaspara siswa, kita akan melihat bagaimana bahan guna ulang atau bahan daur ulang dapat diolah menjadi karya yang menarik sekaligus mengandung pesan kepedulian terhadap lingkungan.
Sesi edukasi berikutnya adalah bank sampah dan pemilahan sampah oleh Ibu Istikomah dan Ibu Uci. Sampah yang tidak dipilah dengan benar dapat menyulitkan proses pengolahan. Sebaliknya, apabila dipilah sesuai jenisnya, sebagian sampah masih dapat dimanfaatkan kembali dan bahkan memiliki nilai ekonomi. Melalui edukasi ini, kita akan mengenal sistem bank sampah, jenis-jenis sampah yang memiliki nilai guna, serta tata cara penyetoran sampah yang benar.
Semoga acara ini bukan sekadar kegiatan seremonial, namun menjadi momentum bagi kita untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam dan menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama. Kita tidak harus menunggu menjadi orang hebat untuk melakukan sesuatu bagi lingkungan. Kita dapat memulainya dengan membawa tumbler, mengurangi sampah plastik, memilah sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, merawat tanaman, serta menjaga kebersihan di mana pun kita berada. (Tim Media Smagalas)
Dokumentasi











