Selasa, 26 Mei 2026
  • Selamat Datang di Website Resmi SMAN 13 Semarang

Bulan Cinta

Oleh Ustdz Hadi 

Bulan adalah sebutan sekumpulan hari-hari dalam seminggu, terkadang satu bulan ada 29 hari, 30 hari atau 31 hari. Dalam perspektif ilmu pengetahuan, bulan adalah satelit alami satu-satunya milik Bumi, yang berarti benda langit ini mengorbit Bumi secara alami tanpa campur tangan manusia. Bulan berjarak rata-rata 384.400 km dari Bumi, berdiameter sepertiga dari Bumi, dan berpengaruh besar terhadap pasang surut air laut serta stabilitas iklim planet. Simbul bulan dipersonifikasikan dengan keindahan karena munculnya dimalam hari, sehingga begitu tampak indah mempesona di tengah kegelapan, lebih-lebih ketika pada bulan purnama.

 Sedangkan cinta adalah emosi kasih sayang yang kuat, mendalam, dan abstrak, mencakup rasa suka, keterikatan, serta komitmen terhadap seseorang atau sesuatu. Lebih dari sekadar perasaan, cinta sering diwujudkan melalui tindakan nyata, pengorbanan, kepedulian, dan keinginan untuk mendukung pertumbuhan serta kebahagiaan pihak yang dicintai. 

Bulan cinta dapat diartikan adanya pembuktian cinta, rasa kasih sayang pada bulan- bulan tertentu dalam penanggalan kalender hijriyah. Secara urut nama-nama bulan tersebut adalah Muharram, Safar, Robiul awal, Robiul Akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rojab, Sya’ban, Romadhon, Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah.

Bulan Ramadhan

Dalam kalender hijriyah ada dua bulan yang istimewa dibanding bulan-bulan lainnya, yaitu bulan Ramadhan dan Dzulhijah. Dua bulan tersebut melambangkan cinta sang kholik dan makhluk. Ramadhan adalah bulan sebagai pembuktian cintanya Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw. Bulan penuh berkah, rohmah dan maghfiroh atau ampunan. Bulan didalamnya ada satu malam, kemuliaannya setingkat dengan orang beribadah selama 1000 bulan, istilah populer dengan nama  malam lailatul qadar. Allah Swt telah menunjukkan cinta-Nya kepada hamba yang beriman, sebagaimana firmaNya dalam hadits qudsi “Shoumu lii wa ana ajzi bihi”, puasa itu untuk Aku dan Akulah yang akan memberi pahalanya. Tidurnya orang puasa itu ibadah, diamnya laksana membaca tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan dosanya diampuni. Reward yang diberikan Allah Swt ini sebagai bukti bahwa Allah Swt sungguh cinta kepada hambaNya, manakala dalam menjalankan ibadah puasa benar-benar sesuai syar’i atas dasar iman dan ihlas. Tingkatan berpuasa seperti ini diujung Ramadhan berhak menyandang manusia fitrah atau kembali kepada kesucian, suci laksana bayi yang lahir ke dunia tanpa membawa dosa, bersih dan suci. Bulan Ramadhan adalah bulan sebagai bukti kasih sayangNya sang kholik, Allah Swt kepada makhluknya.

Bulan dzulhijjah.

Bulan dzulhijah menempati urutan ke-12. Sebelum dzulhijah ada bulan dzulqo’dah dan syawal. Dzulhijjah secara bahasa berasal dari dua kata, yaitu Dzu (pemilik/yang mempunyai) dan Al-Hijjah (haji), sehingga artinya adalah “bulan pemilik haji” atau “bulan haji”. Ini adalah bulan terakhir dalam penanggalan Hijriyah, yang termasuk dalam empat bulan suci (Asyhurul Hurum) di mana ibadah haji dilaksanakan. Melaksanakan ibadah haji termasuk rukun Islam yang kelima. Sehingga secara hukum, wajib ditunaikan bagi yang mampu secara fisik dan finansial (QS. Ali Imran ayat 97). Bagi muslim yang sedang tidak berhaji dan mampu dianjurkan menyembelih hewan qurban pada hari raya idul adha  dan tasyrik, yaitu tanggal 10, 11, 12, 13 dzulhijah. Di bulan inilah hakikat cinta diuji. Seberapa besar dan kuat antara rasa cinta kepada harta atau sang Pencipta, Allah Swt. Bila pada bulan Ramadhan, Allah Swt telah membuktikan rasa cinta kepada hambaNya, maka di bulan Dzulhijah, saatnya kita sebagai makhluk harus membuktikan cintanya kepada sang kholik, Allah Swt.

Cinta Allah Swt berarti dalam setiap tatapan mata  dan hati, terlihat indah dan menyenangkan, melahirkan hati yang ingin selalu bermuwajah dan taqarub di hadapanNya.   Cinta Allah Swt harus ada konsekuensinya. Salah satunya dibuktikan dengan rela berkurban apa yang dimiliki dan dicintainya (QS al kautsar 1-3). Pengorbanan yang dilakukan sebagai pembuktian cinta sejati agar lebih dekat dengan yang sangat dicintainya

Pembelajaran tentang sebuah pengorbanan yang tulus sebagai bukti cinta kepada Allah Swt telah dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahimn. Kisahnya dijelaskan dalam QS. As-Safat ayat 102-107.  “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh (ayat ke-100). Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail) (ayat ke-101). Doa demikian selalu ia panjatkan sampai kemudian lahir dari rahim istrinya, Siti Hajar, seorang putra yang diberi nama Ismail. Pada saat itu, Nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Saat tengah gembira atas kelahiran putranya, ia mendapatkan perintah untuk meninggalkan dua orang yang amat dicintainya, istri dan anaknya itu di tengah wilayah yang tandus, yakni Makkah. Wilayah yang diapit dua bukit, yakni Shafa dan Marwah. Dikisahkan dalam kitab Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir, Siti Hajar turut berdiri manakala melihat sang suami, yakni Nabi Ibrahim, berdiri, sembari mengajukan pertanyaan. “Duhai Ibrahim, hendak ke mana Engkau pergi, sedangkan Engkau meninggalkan kami di lembah ini tanpa ada seorang teman dan sesuatu apapun?” Siti Hajar berulang kali menyampaikan hal yang sama. Namun, sang suami tak bergeming sedikit pun. Melihat tak ada respons, Siti Hajar mengubah pertanyaannya, “Apakah Allah Swt memerintahkanmu demikian?”. “Ya,” Nabi Ibrahim menjawab pendek. “Jadi, jangan sia-siakan kami,” kata Siti Hajar lagi menjawab sembari kembali ke tempat semula. Sementara Nabi Ibrahim terus berlalu. Saat itu, Nabi Ismail masih bayi, masih menyusu kepada ibunya. Ketika perbekalan habis, sang ibu pun mencari penghidupan. Namun, ia tak menemukan apa-apa di sekitarnya. Segera ia menaiki bukit Shafa dan melempar pandangannya ke bawah, tetapi tak ada apa-apa. Setelah memastikan memang tidak ada apa-apa, ia turun kembali dan melihat sekitarnya, masih demikian. Lalu, ia coba menaiki bukit Marwah dan kembali mengarahkan pandangannya ke sekitar. Namun, lagi-lagi, tak ia temukan barang sesuatu apapun. Hal demikian berulang sampai tujuh kali. Tentu kisah ini bukan saja ujian bagi Siti Hajar dan Nabi Ismail kecil,. Tetapi juga bagi Nabi Ibrahim selaku ayah yang harus mengikhlaskan situasi demikian. Setelah Nabi Ismail beranjak remaja, Nabi Ibrahim kembali diuji untuk mengorbankan putranya. Perintah ini datang melalui mimpi pada tanggal 8 Dzulhijjah. Namun, perintah ini tak langsung diamini oleh Nabi Ibrahim. Ia masih meragukan apakah betul mimpi tersebut adalah perintah dari Allah swt. Kemudian, mimpi yang sama datang lagi pada tanggal 9 Dzulhijjah. Karenanya, tanggal tersebut dinamai hari Arafah, yakni hari saat Nabi Ibrahim arafa (mengetahui), meyakini bahwa mimpi yang datang di dalam tidurnya adalah betul-betul perintah dari Allah swt. Lantas, keesokan harinya, pada tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah tersebut, yaitu menyembelih putranya Ismail yang kemudian oleh Allah Swt digantikan nya dengan seekor hewan besar (domba).

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat al-Shaffat ayat ke-101:
Perintah ini datang melalui mimpi, tidak disampaikan saat Nabi Ibrahim dalam keadaan terjaga. Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya, Al-Tahrir wa al-Tanwir, menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bentuk penghormatan atau memuliakan kepada Nabi Ibrahim atas keresahan yang dialaminya dengan perintah mengorbankan putranya tersebut jika disampaikan saat terjaga. Sebab, melalui mimpi, perenungan atas perintah tersebut akan dilakukan setelahnya karena terkadang mimpi tersebut mengandung tanda gangguan pikiran.

Ibnu Asyur juga menegaskan bahwa mimpi merupakan cara yang ramah bagi jiwa untuk menyambut perintah yang sedemikian berat itu, yakni mengorbankan anaknya yang semata wayang itu. 

Ada ungkapan indah, al Insaanu ya’ti bilaa syai, tsumma yas’a waraa-a kulli syai, summa yatruku kulli syai, wayadzhabu bilaa syai’, summa yuhasabu ‘ala kulli syai. “manusia datang dalam hidup ini tanpa membawa sesuatu, lalu ia hidup di dunia berusaha mengejar segala sesuatu, kemudian ia tinggalkan segala sesuatu itu dan pergi tanpa membawa sesuatu, lantas ia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu itu”. Arti sesuatu tersebut adalah hal-hal yang dibanggakan manusia, tiada lain adalah harta. Harta yang sudah kita raih hanya sekedar transit sebentar, suatu ketika akan lenyap dari genggaman kita. Cintai ia seperlunya saja, jangan berlebih. Khoirul umuri austhuha, sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah saja. Bila mencintai harta berlebihan, kecenderungan akan memunculkan penyakit hati yaitu hubbud dunya. Penyakit yang tertanam dalam hati mampu menjadi sumber kehancuran. Rasulullah Saw melalui sabdanya pernah mengingatkan, “cinta kepada dunia adalah pangkal semua kesalahan.” (HR Baihaqi dari Imam Hasan al-Bashri). Ciri-ciri hubbud dunya adalah  menganggap dunia sebagai tujuan utama bukan sebagai sarana menggapai kebahagiaan di akhirat, membolehkan segala cara tanpa berfikir halal atau haram, kikir pelit enggan menyedekahkan harta atau mengeluarkan zakat padahal merasa mampu, tidak puas dengan apa yang dimiliki, sehingga melahirkan tindakan serakah, tamak dan rakus, dan tidak besyukur dengan nikmat yang ada meski sedikit. Cintai dunia seperlunya saja, karena cinta hakiki adalah kepada sang pencipta dunia dan seisinya. Mari kita buktikan cinta kita kepada Allah Swt, dengan menyembelih hewan qurban di hari adha dan tasyrik.

Perayaan Idul Adha di SMAN 13 Semarang

Peringatan idul adha yang sudah menjadi program kerja Rohis dan OSIS dalam setiap tahun harus tetap berjalan meskipun pelaksanaannya sederhana. Kegiatan ini dalam upaya membentuk karakter peserta didik, yaitu menumbuhkan sikap mau memberi dan berbagi. Adapun bentuk kongkrit kegiatannya setiap kelas disarankan ikut serta berpartisipasi agar terwujudnya latihan qurban. Sedangkan untuk guru dan tenaga kependidikan, berqurban dengan cara kolektif, maksimal ada 7 orang.

Berikut data yang penulis peroleh dari tahun 2010 hingga tahun 2026.

TAHUN PELAJARANSHOHIBUL QURBAN/MUDHOHIHEWAN QURBANPERIODEKEPALA SEKOLAH
2010 M/1431 H7 orang guru1 ekor sapiDrs. Wiharto
 Siswa (latihan)1 ekor sapi 
 2 orang guru2 ekor kambing 
 2 orang siswa2 ekor kambing 
2011 M/1432 H7 orang guru1 ekor sapiDrs. Wiharto
 Siswa (latihan)1 ekor sapi 
 1 orang siswa1 ekor kambing 
2012 M/1433 H7 orang guru1 ekor sapiDrs. Khoirul Imdad, M.Ed
 Siswa (latihan)1 ekor sapi 
2013 M/1434 H7 orang guru1 ekor sapiDrs. Yuwana, M.Kom
 4 orang guru4 ekor kambing 
 Siswa dan PPL (latihan)1 ekor sapi 
2014 M/1435 H7 orang guru1 ekor sapiDrs. Yuwana, M.Kom
 Siswa (latihan)1 ekor sapi 
2015 M/1436 H7 orang guru1 ekor sapiDrs. Yuwana, M.Kom
 Siswa (latihan)1 ekor sapi 
2016 M/1437 H7 orang guru1 ekor sapiDrs. Yuwana, M.Kom
 4 orang guru4 ekor kambing 
 Siswa dan PPL (latihan)1 ekor sapi 
2017 M/1438 H7 orang guru1 ekor sapiDra. Endah Dyah Wardani, M.Pd
 3 orang guru3 ekor kambing 
 Siswa dan PPL (latihan)1 ekor sapi 
2018 M/1439 H7 orang guru1 ekor sapiDra. Endah Dyah Wardani, M.Pd
 1 orang siswa1 ekor kambing 
 Siswa dan PPL (latihan)1 ekor sapi 
2019 M/1440 H7 orang guru1 ekor sapiDra. Endah Dyah Wardani, M.Pd
 3 orang guru3 ekor kambing 
 Siswa dan PPL1 ekor sapi 
2020 M/1441 H7 orang guru kelompok 11 ekor sapiDra. Endah Dyah Wardani, M.Pd
 7 orang guru kelompok 21 ekor sapi 
2021 M/1442 H7 orang guru 1 ekor sapiDr. Endah Dyah Wardani, M.Pd
2022 M/1443 H7 orang guru 1 ekor sapiRusmiyanto, S.Pd., M.Pd
2023 M/1444 H7 orang guru1 ekor sapiRusmiyanto, S.Pd., M.Pd
 Siswa kelas X dan XI (latihan)1 ekor kambingRusmiyanto, S.Pd., M.Pd
2024 M/1445 H6 orang guru dan 1 orang siswa1 ekor sapiRusmiyanto, S.Pd., M.Pd
 Siswa kelas X dan XI (latihan)1 ekor kambing 
2025 M/1446 H7 orang guru1 ekor sapiIsnaeni Tapa Astuti, M.Pd
 Siswa kelas X dan XI (latihan)1 ekor kambing 
2026 M/1447 H6 orang guru1 ekor sapiIsnaeni Tapa Astuti, M.Pd
 Siswa kelas X dan XI (latihan)2 ekor domba 

Hikmah Idul adha

Menyembelih hewan kurban adalah ibadah agung yang sangat dicintai Allah pada hari Nahr (Idul Adha) dan hari Tasyrik, yang bertujuan mendekatkan diri kepada-Nya (taqarrub), menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim AS, serta wujud syukur atas nikmat-Nya. Kurban bernilai pahala besar, menjadi pengampun dosa, serta memupuk solidaritas sosial dengan berbagi kepada fakir miskin. 

Adapun fadhilah atau keutamaan menyembelih hewan kurban, anatar lain:

  1. Amalan Paling Dicintai Allah: Tidak ada amalan yang lebih disukai Allah pada hari raya Idul Adha selain menyembelih kurban. (HR. At Tirmidzi dari Aisyah RA. Hasan Gharib)
  2. Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt. (Taqarrub): Kurban adalah wujud ketaatan dan penghambaan diri kepada Allah Swt. (QS. Al Maidah ayat 27)
  3. Pengampun Dosa: Setiap tetesan darah hewan kurban merupakan pengampunan dosa-dosa terdahulu bagi orang yang berkurban. (HR. Hasan, At Tirmidzi dan Ibn Majah)
  4. Pahala yang Berlipat Ganda: Setiap helai bulu hewan kurban bernilai satu kebaikan/pahala. (HR. Ahmad dan Ibn Majah)
  5. Saksi di Hari Kiamat: Hewan kurban akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan bulunya sebagai saksi amal ibadah. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)
  6. Menghidupkan Sunnah Nabi Ibrahim AS: Mengenang kisah kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. (QS. As Shoffat ayat 102-107)
  7. Wujud Syukur dan Memberdayakan Peternak: Bentuk syukur atas rezeki serta memiliki dampak sosial dan ekonomi dengan membantu fakir miskin dan peternak lokal. (QS. Al Haj ayat 36)

Ibadah kurban mengajarkan keikhlasan dalam mengorbankan harta demi mencapai derajat muttaqiin, bukan sekadar daging atau darahnya yang sampai kepada Allah, melainkan ketaatan pelakunya (QS. Al Haj ayat 37). Kurban dalam dimensi vertikal adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sedangkan dalam dimensi sosial kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir miskin pada hari raya Adha. Dengan demikian kurban merupakan ibadah yang memiliki filosofi agar seseorang dapat menjalin hubungan baik secara vertikal (hablumminallah) maupun horizontal (hablumminannas). Baik hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, ataupun hubungan dengan sesama manusia. 

Wallaahu a’lam.

penulis
Tim IT

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR