Rabu, 20 Mei 2026
  • Selamat Datang di Website Resmi SMAN 13 Semarang

Ketika Murid Lebih Update dari Gurunya

Beberapa hari lalu, di tengah pelajaran, ada murid yang tiba-tiba bertanya, “Pak, sekarang kok berita pelecehan di pondok pesantren sering muncul ya?” Kelas langsung agak hening. Saya tahu berita yang dimaksud. Memang belakangan ini kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dan pesantren kembali ramai diberitakan di berbagai daerah. Ada kasus di Pati, ada juga di daerah lain (https://www.antaranews.com/berita/5558297/).. Ironisnya, tempat yang seharusnya mendidik dan menjaga anak justru kadang menjadi ruang yang menakutkan bagi sebagian korban

Saya tidak langsung menjawab panjang. Bukan karena tidak peduli, tapi karena saya sadar, menjelaskan dunia hari ini tidak sesederhana memberi benar atau salah. Kadang yang membuat berat bukan pertanyaannya, tapi kenyataan bahwa anak-anak sekarang hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Mereka tahu banyak hal lebih cepat daripada guru. Ada yang tahu soal politik dari TikTok, soal perang dari YouTube, soal ekonomi dari potongan podcast, bahkan soal isu sosial dari komentar media sosial. Dan guru, mau tidak mau, harus ikut berjalan di tengah semua itu.

Masalahnya, jadi guru hari ini juga tidak ringan. Ada guru yang hidupnya sudah cukup tenang, penghasilannya stabil, bisa fokus mengembangkan diri. Tapi di sisi lain, masih banyak juga yang hidupnya pas-pasan. Masih ada guru honorer yang harus menghitung uang bensin sebelum berangkat mengajar. Masih ada yang siang mengajar, sore mencari tambahan penghasilan. Belum lagi tekanan administrasi yang kadang menguras tenaga lebih banyak daripada proses belajar itu sendiri.

Di situ saya kadang berpikir, ketika orang bilang “guru harus literat” (lebih dari sekadar membaca), kalimat itu memang benar. Tapi sering terdengar seolah mudah dilakukan. Padahal untuk terus membaca, mengikuti berita, memahami isu sosial, teknologi, sampai perubahan perilaku anak, dibutuhkan energi yang tidak sedikit. Sementara banyak guru sendiri sedang sibuk bertahan. Belum lagi dunia berubah terlalu cepat. Hari ini ramai soal AI. Besok soal ekonomi. Lusa soal kebijakan baru. Anak-anak datang ke kelas membawa keresahan yang bahkan kadang belum sempat kita pahami sendiri.

Pernah suatu kali ada murid yang menjelaskan fitur teknologi terbaru di HP-nya. Saya malah baru tahu. Anak-anak tertawa sedikit, saya juga ikut tertawa. Dulu mungkin saya akan gengsi mengakui kalau saya belum paham. Sekarang rasanya lebih ringan bilang, “Coba jelaskan lagi, Bapak juga mau belajar.” Aneh ya, justru di situ percakapan jadi lebih hidup.

Saya mulai percaya, guru tidak harus selalu jadi orang paling pintar di ruangan. Karena kalau dipaksa begitu, capek sendiri. Yang mungkin lebih penting adalah tetap punya rasa ingin tahu. Tetap mau mendengar. Tetap mau membuka diri walaupun kepala sudah penuh. Sebab literasi hari ini bukan cuma soal rajin membaca buku. Tapi soal kesediaan untuk tidak menutup mata terhadap keadaan sekitar. Tentang mau memahami kenapa anak bisa cemas, kenapa mereka mudah marah, kenapa mereka kadang lebih percaya internet daripada orang dewasa. Dan mungkin memang itu pekerjaan rumah terbesar pendidikan sekarang. Bukan sekadar membuat anak pintar, tapi menjaga agar percakapan antara guru dan murid tidak putus. Karena kalau suatu hari guru berhenti mau belajar, mungkin kelas masih berjalan. Pelajaran masih selesai. Nilai tetap keluar. Tapi ruang hidup di dalam pendidikan pelan-pelan bisa ikut padam.

Penulis: Widodo, guru yang terus belajar

penulis
Tim IT

Tulisan Lainnya

IMPLEMENTASI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH
Oleh : Rahmad Ardiansyah

IMPLEMENTASI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

0 Komentar

KELUAR