Minggu, 31 Agu 2025
  • Selamat Datang di Website Resmi SMAN 13 Semarang

Biografi R.A. Kartini, Sosok Penggagas Emansipasi Wanita

Biografi R.A. Kartini, Sosok Penggagas Emansipasi Wanita
Biografi R.A. Kartini, Sosok Penggagas Emansipasi Wanita

Siapa yang tidak kenal nama R.A. Kartini? Tokoh ini menjadi penggalan kata dalam lagu “Ibu kita Kartini” yang dinyanyikan sejak sekolah dasar. R.A. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara. Ia merupakan putri tertua dari 11 bersaudara keluarga ningrat Jawa atau sering dikenal dengan keluarga priyayi atau bangsawan. Sang ayah bernama Adipati Raden Mas Ario Sosroningrat sedangkan sang ibu bernama M.A. Ngasirah yang merupakan anak dari guru agama di Teluwakur, Jepara. R.A. Kartini memiliki garis keturunan keluarga cerdas. Hal tersebut terbukti dari sang kakek, Pangeran Ario Tjondronegoro IV yang merupakan sosok cerdas menjadi bupati pada usia 25 tahun.

Sebagai seorang perempuan Jawa dengan berbagai keterbatasannya, R.A. Kartini sangat merasakan ketimpangan sosial antara laki – laki dan perempuan waktu itu. R.A. Kartini dianggap sebagai tokoh yang menggemakan emansipasi wanita. Atas jasanya dalam memperjuangkan kesetaraan hak perempuan, R.A. Kartini diberikan predikat Pahlawan Nasional Indonesia melalui keputusan RI No. 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964.

“R.A Kartini ingin menunjukkan jika perempuan tidak hanya ‘konco wingking’, artinya perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di bidang pendidikan. Perempuan juga bisa menentukan pilihan hidup tak harus atas paksaan orangtua dan perempuan juga bisa sekolah setinggi-tingginya,” kata Pengamat Sejarah Edy Tegoeh Joelijanto (50) yang pernah mengenyam pendidikan di UKDW Jogjakarta dan Universitas Putra Bangsa Surabaya. Pada zaman itu perempuan tidak diperbolehkan mendapatkan pendidikan, dan hanya dari kalangan bangsawan saja yang bisa.

Kartini muda adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi ilmu pendidikan. Ia gemar membaca dan menulis. Namun, hal yang sangat disayangkan cita – citanya terenggut oleh aturan Jawa yang tidak memperbolehkan wanita untuk menimba ilmu yang tinggi. Hal tersebutlah yang membuat R.A. Kartini hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar sampai usia 12 tahun.

Kartini bersekolah di Europe Legere School. Kartini muda sangat mahir berbahasa Belanda dan harus berhenti pendidikannya karena dipingit. Namun, Kartini memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikannya. Ia sering bertukar informasi dengan temannya yang ada di Belanda melalui surat menyurat. Kartini menunjukkan kemahirannya dalam membaca dengan membaca buku, koran, dan majalah Eropa. Dari sinilah ia tertarik pada kemajuan berpikir Eropa dan timbul keinginan untuk memajukan pribumi.

Kartini dikaruniai anak laki – laki bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Empat hari pasca melahirkan, R.A. Kartini meninggal tepat tanggal 17 September 1904 pada usia 25 tahun. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Perjuangan R.A. Kartini ditunjukkan melalui tulisannya yang dimuat pada majalah perempuan Belanda bernama De Holandsche Leile. dalam surat yang dimuat di koran / majalah tersebut, R.A. Kartini menyatakan keprihatinan nasib bangsa Indonesia dibawah kondisi pemerintahan Kolonial. Terlebih atas perbedaan perlakuan antara laki – laki dan perempuan seperti perempuan tidak boleh berpendidikan tinggi, harus melaksanakan pingitan, serta tidak diberikan ruang gerak yang setara seperti laki – laki. Tulisan surat menyuratnya kemudian dibukukan dan diberi judul Door Duistenis Tot Licht atau Kegelapan Menuju Cahaya sehingga pada tahun 1922 diterbitkan menjadi buku yang berisi kumpulan surat R.A. Kartini berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

KELUAR

Ikuti kabar terbaru dari SMA Negeri 13 Semarang di channel whatsapp

Klik disini

Channel WA SMAN 13 Semarang