Diklat dan Pelantikan Penegak Laksana, menjadi penutup tahun yang semarak untuk Gugusdepan Kota Semarang 15.075–15.076 Pangkalan SMA Negeri 13 Semarang. Selama dua termin kegiatan, para Penegak Bantara digembleng lewat Diklat Penegak Laksana: termin pertama fokus uji teknik lapangan termasuk scouting skills, termin kedua menekankan bakti masyarakat, kemandirian, hingga puncaknya prosesi pelantikan.
Kalau diibaratkan, prosesnya mirip besi yang ditempa: bukan sekadar dipanaskan sebentar lalu jadi, tapi harus melalui pukulan-pukulan terukur, di sana ada uji fisik, mental, logika, dan sosial, tentu dengan harapan agar “bentuk” kepemimpinannya muncul karena memang tujuan kegiatan ini ialah menyiapkan Penegak Laksana sebagai kader yang bukan hanya cakap teknik kepramukaan, namun juga matang dalam tanggung jawab, organisasi, dan pengabdian.
Termin 1 digelar Senin, 22 Desember 2025 dengan rute dan aktivitas berpusat di SMAN 13 Semarang, lalu bergerak ke area Hutan Kota BSB dan lingkungan Kelurahan Wonolopo. Fokusnya uji ketahanan dan keterampilan dasar: mulai dari checking perlengkapan, navigasi, komunikasi sandi, menaksir, memasak mandiri, hingga pioneering dan bivak. Mereka diarahkan bergerak memakai kompas dan koordinat Maps, bahkan titik koordinatnya ditentukan dan harus dibuktikan dengan foto penanda lokasi. Setelah itu ada tantangan komunikasi (morse/semaphore), menaksir tinggi/lebar objek, dan memasak di alam terbuka. Lanjut ke sesi “ketertiban bermasyarakat”: tiap sangga diminta meminta pengesahan/tanda tangan RT/RW sebagai bukti izin melintas secara sopan, sambil tetap menjaga suasana ceria lewat lagu atau seni sederhana di perjalanan.
Puncak kegiatan berlangsung Minggu-Senin, 28-29 Desember 2025. Lokasi bergerak dari SMAN 13 Semarang menuju lingkungan Kelurahan Wonolopo, lalu prosesi pelantikan dilaksanakan di Joglo Mase Wonoplumbon. Di termin 2 ini, “uji lapangan” bukan hanya soal kompas dan survival, tapi juga cara hadir di tengah masyarakat. Sepanjang jalur, peserta menjalankan beberapa misi: 1) kewirausahaan: menjual hasta karya/produk kepada warga, 2) giat resik religi: aksi bersih-bersih tempat ibadah, 3) seni jalanan: hiburan ringan untuk warga, 4) etika bermasyarakat: kembali meminta pengesahan ketua RT/RW.
Sore hingga malam diisi penyelesaian SKU/SKK yang belum tuntas, pengelolaan sarpras secara mandiri, lalu api unggun dan pentas seni yang sepenuhnya ditangani peserta sendiri, mulai dari dari petugas upacara, properti, sampai susunan acara. Setelah itu ada renungan malam sebagai ruang evaluasi diri sebelum pelantikan.
Keesokan paginya, agenda berlanjut: ibadah dan olahraga, cooking challenge, operasi semut, open forum bersama pembina, lalu upacara pelantikan. Rundown menempatkan berlangsung pukul 09.30 WIB, prosesi terjadi pada pagi hari 29 Desember 2025. Peserta kegiatan terdiri dari 25 Penegak Bantara yang dibagi dalam beberapa sangga. Hasil akhirnya 24 anggota resmi menyandang tingkatan Laksana.
Di balik langkah peserta yang berpindah dari pos ke pos, para pembina -Kak Warti, Kak Udin, Kak Istiqomah, dan Kak Widodo- hadir dengan cara yang sering tak ramai, namun menguatkan saat ragu, menegaskan saat perlu, dan menjaga agar setiap proses tetap aman serta bermakna. Seperti pelita kecil di tepi jalur, tak mengejar sorotan, namun membuat perjalanan tetap menemukan arah.
Desember di Semarang itu kadang seperti membuka keran langit: bisa teduh, bisa tiba-tiba deras. Karena itu, pembina menyiapkan mitigasi, mulai dari kewajiban jas hujan/ponco, monitoring kesehatan berkala, sampai skenario cadangan bila hujan lebat. Di sisi lain, jadwal termin 1 yang padat menuntut fisik prima dan manajemen waktu yang rapi.
Pada akhirnya, Diklat dan Pelantikan Laksana ini bukan sekadar seremoni “naik tingkat” atau deretan pos uji yang bikin pegal kaki. Ia seperti kompas yang disetel ulang: mengarahkan para Penegak agar tetap tahu ke mana harus melangkah, bukan hanya di peta rute, tapi juga di peta hidup. Dari jalanan Wonolopo, dari kerja bakti dan menggelar hasta karya, dari api unggun sampai renungan malam, mereka belajar satu hal penting: kepemimpinan itu bukan soal siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang paling siap bertanggung jawab.
Ketika akhir acara ditutup dan atribut Laksana resmi tersemat, perjalanan justru baru dimulai. Karena setelah tepuk tangan reda, yang diuji bukan lagi sandi dan tenda, melainkan konsistensi: menjaga janji, menguatkan satuan, dan tetap berguna di tengah masyarakat. Laksana bukan garis finish, ia adalah pintu baru, tempat para Penegak belajar berjalan lebih tegak, membawa manfaat, dan menjadi “api kecil” yang cukup hangat untuk menerangi sekitarnya.
Penulis: Widodo, pembina pramuka Smagalas